#TiketHarianBerjaminan dan Commet Multi Trip
*pretek...pretek*
Badan rasanya pegel-pegel semua, gegara naik commuter line (CL) menguras emosi dan tenaga. Jadi ceritanya hari ini saya jalan ke suatu tempat menggunakan CL. Kebetulan hari ini pula penerapan perdana sistem #TiketHarianBerjaminan, so antrian mengular di loket karcis.
Belum tahu tentang tiket harian berjaminan? Jadi begini manteman, kita bayar biaya perjalanan plus biaya jaminan untuk kartu yang kita terima. Biaya perjalanan sesuai dengan jarak perjalanan tujuan (tarif progresif bersubsidi), yaitu 5 stasiun pertama Rp 2000, 1 stasiun berikutnya tambah Rp 500. Biaya jaminan kartu adalah Rp 5000. Apabila kita telah usai mengadakan perjalanan menggunakan CL, kartu jaminan itu bisa ditukar kembali dengan uang Rp 5000 yang sudah kita bayarkan sebagai jaminan tadi. Belum jelas?
Sini deh saya contohin ya, misalnya perjalanan saya dari stasiun Pasar Minggu (PSM) ke stasiun Pondok Cina (PDC). Di loket stasiun PSM saya bilang ke petugas bahwa stasiun tujuan saya adalah PDC. Karena dr PSM ke PDC melalui 6 stasiun jadi biaya yang harus saya bayarkan adalah Rp 2500 ditambah Rp 5000 untuk kartu jaminan. Setelah bayar, petugas akan kasih kita kartu jaminan (warna putih, sayang tadi gak kepikiran untuk difoto) + struk pembayaran. Jadi saya bayar Rp 7500. Setelah itu masuk ke peron dengan cara men tap kartu yang tadi dikasih petugas loket di mesin gate in (ada petugas yg jaga kok). Jangan lupa bawa kartu tadi, jangan ditinggal di mesin, jangan hilang. Setelah itu masuk peron dan naik CL ke PDC. Sampai di PDC, saya men tap kartu lagi ke mesin gate out. Setelah keluar peron, saya ke loket untuk mengembalikan kartu putih tadi ke petugas dan petugas mengembalikan uang Rp 5000 saya yang tadi digunakan sebagai jaminan kartu. Selesai. Info lebih lengkap bisa didapat di pusat informasi stasiun, tapi sebenarnya petugas stasiun sering banget mengumumkan cara penggunaan sistem tiket harian berjaminan ini menggunakan pengeras suara, jadi cepet ngerti deh.
Setahu saya adanya sistem baru ini karena kerugian yang dialami PT KAI akibat banyaknya tiket elektronik yang tidak dikembalikan penumpang. Konon katanya kerugian mencapai 5 milyar rupiah. CMIIW (correct me if i wrong). Tadi saya dengar bapak-bapak lagi ngobrolin kerugian PT KAI yang 5 milyar ini, katanya kurang lebih seperti ini "Iyalah rugi, temen saya aja bilang dia bisa ngumpulin kartu kereta sampe 20 biji, dijadiin maenan buat anaknya, kan anak kecil demen sama gambar kereta apinya itu" Saya ber ooo ria, pantes bisa rugi, penumpangnya gak disiplin. Kok bisa-bisanya ya orang gak balikin kartu tersebut? Dikira bikinnya gak pake duit kali ya, lagipula itu kan bakal dipake terus sama dia dan orang lain. Kalo peraturannya harus dikembalikan, ya sudah kembalikan saja, jangan konyol melanggar aturan dengan membawa pulang kartu tersebut dengan alasan koleksi.
Karena hari ini adalah perdana penerapan #TiketHarianBerjaminan, antrean loket jadi panjang. Jelas, masyarakat bertanya cara penerapan sistem baru ini di loket. Biasanya di loket cuma ngasih uang ke petugas, petugas ngasih kartu ke calon penumpang, terus pergi. Sekarang jadi lebih lama karena calon penumpang nanya-nanya dulu gimana cara pakainya. Saya gak sabar banget kalo setiap mau berangkat kuliah harus antre berlama-lama, panas-panasan, desak-desakan dengan calon penumpang lain. Akhirnya saya putuskan untuk beli commet multiple trip. Harga perdananya Rp 50.000 (Rp 20.000 untuk kartu awal + Rp 30.000 saldo awal). Apabila kartu rusak, bisa ditukar secara gratis.
Dengan commuter electronic ticketing multiple trip ini kita tidak perlu lagi antre di loket untuk beli tiket. Kalau kita punya tiket ini, kita bisa langsung masuk ke stasiun dengan men tap in kartu ini ke mesin gate in. Kartu ini berisi saldo untuk biaya perjalanan kita yang dipotong setiap kita men tap kartu ke mesin saat keluar stasiun. Apabila saldo habis, bisa diisi ulang di loket stasiun. Yaaa semacam kartu ATM lah cara pakainya. Untuk info lebih lengkap bisa lihat di web KAI atau di stasiun-stasiun terdekat.
| Ini kemasan commet |
| Tambah 1 kartu yang wajib dibawa di dompet |
Kesan saya: transportasi kereta api di Jakarta masih tetap tidak berpihak pada kaum lansia, manula dan penyandang cacat. Kenapa? 1, Tidak ada jalur kursi roda di stasiun-stasiun di DKI Jakarta. Makanya sering heran liat publikasi seat priority di dalem kereta yang harus mendahulukan penyandang cacat untuk duduk (dengan icon kursi roda). Ya gimana dikasih duduk, masuk peron aja gak bisa Pak buat orang-orang berkursi roda. Walaupun penyandang cacat bukan hanya yang pakai kursi roda lho ya. 2, Ini nih sistem tiket harian berjaminan ini yang semakin membikin orang-orang ribet. Saya aja tadi butuh waktu lama untuk paham cara melakukan perjalanan dengan sistem begini, apalagi orang yang udah tua. Moso orang tua disuruh ngantre lama-lama, desak-desakan, ya bisa pingsan nenek orang. Mungkin waktu merencakan sistem ini, para pejabat gak mikir sampe kesitu. Maklum kok, makluuum.
Ya pokonya semangat lah ya buat para pejabat kereta untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat supaya orang-orang nyaman bepergian dengan kereta api. Pun dengan alat-alat transportasi lainnya dan bidang kenegaraan lainnya.
Komentar
Posting Komentar